Hey! Tunggu aku
Tergesa kucari kau dilalu lalang
Hatiku ricuh diriuh kota
Aku janji padamu
Senja ini di pantai sana
Aku berlari memacu kuda besi ini
Tak ingin kau lelah dan lama menunggu
Dan akhirnya kau pergi tinggalkan aku
Aku tau hanya picisan, tapi aku tak bisa hidup tanpamu
Hatiku diburu, napasku tak teratur... cemas
Tanganku dingin basah oleh keringat
Perutku mulas terlampau tegang
Jutaan kupu-kupu memenuhi perutku
Tanpa permisi mereka beranak-pinak membuatku tersiksa
Ini kah rasanya, jatuh cinta?
Aku masih di sepintas ini
Sambil komat-kamit minta kau jangan pergi dulu
Ada sesuatu yang harus kuucapkan senja ini
Aku hampir... hampir terlambat
Kau merangkak turun
Dari singgasana cantik itu
Semakin dekat dengan bumi
Semakin gemetar hatiku melihat rupamu yang rupawan
Oh, kau membuatku terlalu jatuh hati
Dan lalu dikejauhan
Kulihat surga itu
Pantai mimpi, tempat kita janji merindu
Kau masih sangat cantik, sejengkal dari bumi
Seakan menungguku, menyapa untuk mengantarkan pada peluk malam
Senja ini di pantai tanah mimpi, kita beradu
Hari ini berpuluh kilometer kutempuh
Hanya untuk mengejar langit
Untuk mengantarkan cintaku sampai lelap
Dinyanyikan debur ombak yang mulai pasang
Menjingga kau begitu terlalu cantik
Aku bisikkan ketika kau menyentuh bumi
Hey! Aku terlalu jatuh cinta padamu, Mentari
Friday, July 17, 2009
Mengejar Langit
Mengejar Langit II
Ia duduk tak bisa tenang
Pikirannya melaju lebih cepat dari mobil ini
Sebentar-sebentar diliriknya jam hijau yang kedip-kedip tenang
Sekali-sekali aku terguncang oleh jalan yang mendaki dan berkelok
Ia menggoyang-goyangkan kakinya tanda gelisah
Kadang dilihatnya langit
Mungkin berdoa agar senja jangan datang dulu
Mungkin begitu bila orang jatuh cinta
Gelisah, cemas, tak sabar
Menunggu waktu berjumpa sang kekasih
Lalu pantai mimpi itu terlihat dari tebing sini
Indah mempesona tanpa kata lebih indah untuk melukiskan keindahannya
Kekasihnya masih menunggu di ujung sana
Anggun turun dari atas langit, menyapa cakrawala
Tergesa ia berlari ke pantai
Memeluk hangatnya yang masih terasa
Semburat jingga yang tumpah di barat sana seakan balas memeluknya
Mereka berdua melepas rindu
Matahari senja dan kekasihnya
Jatuh cinta pada langit memang luar biasa
Meracau Saja
Berdentum, bergoyang, melentur
Hanya pahit kurasa dibibir
Lampu kedap kedip warna warni
Jantungku melonjak-lonjak di dada sini
Semua orang sepertinya bergerak berbeda arah
Atau memang lantainya yang gempa tanpa akhir
Hilang dalam ilusi rasa
Senang rasanya melayang setengah sadar
Lupa bahwa bumi punya gravitasi
Hanya menari mengikuti dentuman yang bertalu-talu
Lalu meracau tak jelas sedikit-sedikit tertawa
Ah, siapa pula pencipta air ajaib itu?
Air pembawa ilusi rasa untuk membubung tinggi dan lepas dari bui bumi
Jauh Semakin Jauh
Bunda jangan marah
Biar angin timur membawa amarahmu pergi, ke arah senja yang tenggelam bersama sang putri langit, Sang Jingga yang tetap tersenyum.
Aku dan seisi laut hanya senyum simpul tanpa arti mencela
Bu, perih tampar di wajah dan sakit remuk di hati tak cukup untuk membunuhku
Bukan tetes air mata yang ingin kau lihat. Karena air mataku habis kering sudah sejak lama.
Seperti pelangi bocah yang terampas hilang musnah sejak bantingan pintu terakhir itu
Tak kah kau tau itu, Bu? Pelangiku sudah lama abu-abu... Bukan baru kemarin
Sepertinya gelimang angka-angka telah membuatmu lama tersadar, aku memang telah lama pergi
Bunda jangan marah, tak perlulah teriak mengiris-ngiris telinga dan hati yang sudah jadi serpih
Apa pula yang ingin kau tumbuk lagi?
Hatiku telah matang jadi bubur, yang ditumbuk dan digodok, lalu dikukus bertahun-tahun, siap dimakan si adik
Bu, tolong berhenti marah, karena itu tak akan membunuhku, itu hanya akan membuatku hilang semakin jauh
Jauh
J a u h
J a u h
Ja uh
J a u h
Dan
Semoga
aku masih
bisa pulang